ISBI TANAH PAPUA GELAR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT: PROSES PENCIPTAAN TARI REJANG GIRI JAYA ING PURA BERSAMA KOMUNITAS SENI SARASWATI BALI DI KOTA JAYAPURA.
admin web | 04 November 2025 | Dibaca 99 kali |

Jayapura,  03 November 2025  Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua menggelar pengabdian kepada masyarakat melalui workshop penciptaan Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura bekerja sama dengan Komunitas Seni Saraswati. ISBI Tanah Papua adalah institutsi seni yang fokus pada Tridharma Perguruan tinggi: Pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang bertujuan untuk melestarikan, mengembangkan, serta membangun insan kreatif. Tarian ini mempertemukan dua elemen budaya tradisi antara tari rejang tradisional Bali  dengan mitologi lokal Suku Sentani.

Gagasan utama dari dua elemen budaya ini adalah mengintegrasikan makna Dewi Robhong Holo sebagai entitas suci pelindung alam menurut mitologi Suku Sentani, yang diaplikasikan melalui tari Rejang sebagai tari persembahan budaya Bali. Komunitas Sanggar Seni Saraswati menyambut baik workshop penciptaan tari ini, sebagaimana terlihat dari antusiasme peserta. Sebanyak 50 pelaku seni terlibat, terdiri dari 43 pemain musik gamelan Bali dan 7 penari perempuan dari komunitas Hindu di Kota Jayapura.

Dalam cerita mitologi Sentani Dewi Robhong Holo dijuluki Mama Kehidupan, mitologi ini memberikan inspirasi yang kuat untuk penciptaan tari Rejang Giri Jaya Ing Pura. Dewi Robhong Holo melambangkan Dewi Kesuburan, Kesejahteraan, dan Kemakmuran. Inspirasi ini muncul karena diangkatnya tema tentang kesejahteraan kehidupan masyarakat Hindu di Jayapura. Keterkaitan antara mitologi dan kesejahteraan umat Hindu di Jayapura dapat direpresentasikan melalui konsep tari Rejang, dimana nantinya tarian ini ditarikan tepat di kaki Gunung Cycloop Sentani, di Pura Agung Giri Cycloop. Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura ditata secara kolektif oleh para penari dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Jayapura, dan musik tari ditata oleh seorang dosen ISBI Tanah Papua Kadek Indra Wijaya.

 

Workshop ini diselenggarakan selama tiga bulan bertempat di Wantilan Budaya Pura Agung Surya Bhuwana Kota Jayapura. Metode penuangan gerak dibagi menjadi tiga tahap: 1. Proses eksplorasi gerak tari serta pola lantai, 2. Proses penggabungan musik dan gerak tari, 3. Penyempurnaan hasil akhir tari dan musik. Selain itu, peserta dianjurkan untuk melakukan metode belajar di rumah secara mandiri dengan mencatat dan merekam video gerakan yang diberikan, agar lebih cepat memahami pola gerak tersebut. Dengan menggunakan metode sederhana ini, proses penciptaan tari dapat dilakukan tepat waktu.

Keberhasilan dalam suatu proses dan pencapaian hasil akhir yang baik tidak lepas dari tantangan yang dihadapi. Lika-liku yang dilalui dalam proses ini, seperti mengatur jadwal workshop, karena setiap peserta memiliki latar belakang dan waktu yang berbeda-beda, serta kurangnya pemahaman tentang penciptaan tari, dan pemahaman teknik atau pola permainan gamelan Bali. Oleh karena itu, dibutuhkan model pelatihan yang bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga mendorong partisipasi anggota secara lebih merata. Meskipun penuh tantangan, kondisi tersebut justru membuka peluang besar bagi lahirnya kreativitas baru. Komunitas Hindu di Jayapura memiliki modal sosial yang kuat berupa komitmen terhadap pelestarian seni.

Penampilan tari Rejang Giri Jaya Ing Pura

Saat penyajian tari Rejang Giri Jaya Ing Pura, suasana sakral tercipta melalui harmonisasi gerak tari, kostum, properti, dan alunan musik gamelan Bali. Tarian ini menyampaikan makna mendalam tentang mitologi sentani. Gerak tari yang lembut, disertai dengan properti janur kuning yang dibuat dengan apik, menciptakan aura sakral yang kuat. Alunan melodi gamelan Bali memperkuat nuansa ketenangan, sementara kombinasi warna kostum merepresentasikan kesuburan dan kesejahteraan. Dengan durasi 10 menit, pertunjukan ini menghadirkan nuansa baru dalam upacara keagamaan, memungkinkan masyarakat merasakan keagungan tari Rejang Giri Jaya Ing Pura

Penampilan Musik Tari

Ketua Komunitas Seni Saraswati Bali di Kota Jayapura, I Dewa Putu Taman, menjelaskan bahwa Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura bukan hanya sekadar tarian tontonan. Tetapi tarian ini memberikan vibrasi toleransi yang kuat, menunjukkan bahwa inspirasi atau ide karya seni tidak mengenal batasan budaya, suku, dan ras. Selain itu, I Wayan Suasta tokoh masyarakat Hindu di Jayapura menambahkan bahwa Tari Rejang Giri Jaya Ing Pura memiliki potensi untuk meningkatkan eksistensi serta memperkenalkan seni dan budaya Bali kepada masyarakat di perantauan. Ia juga menekankan bahwa umat Hindu di Jayapura mampu menselaraskan adat dan budaya mereka melalui persembahan seni yang kaya akan nilai-nilai budaya, tanpa menghilangkan makna yang telah terjalin dalam konteks sosial lingkungan Jayapura dan sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, ISBI Tanah Papua tidak hanya membantu penciptaan karya tari baru, tetapi juga memperkuat ruang kerjasama lintas budaya di Kota Jayapura. Proses penciptaan partisipatif model ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium dialog yang memadukan tradisi dengan konteks lokal, serta mempertemukan identitas budaya dalam semangat saling menghargai. Ke depan, model pendampingan komunitas berbasis penciptaan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan bersama berbagai komunitas budaya lainnya. Melalui pendekatan kerjasama partisipatif, seni tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga sebagai sarana memperkuat kebersamaan, toleransi, dan keberlanjutan nilai-nilai budaya di tengah masyarakat multikultural Papua

BAGIKAN :